Status Security RSUD La Palaloi Jadi Polemik! Bupati Sebut Dipindah, Direktur Bilang Dikembalikan ke Vendor

Maros Sulsel, Sulawesibersatu.com — Penanganan polemik pelayanan RSUD dr. La Palaloi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, justru memunculkan tanda tanya. Bupati Maros Chaidir Syam menyebut petugas keamanan yang viral dipindahtugaskan, sementara Direktur RSUD dr. Sri Syamsinar Rachmah menyatakan petugas tersebut dirumahkan dan dikembalikan kepada vendor penyedia jasa keamanan.

Perbedaan penjelasan itu memantik pertanyaan yakni apa sebenarnya tindakan yang dijatuhkan kepada petugas tersebut? Direktur menegaskan petugas itu sudah tidak bertugas di rumah sakit, tetapi mekanisme pengembalian kepada vendor dan status sanksinya belum dijelaskan secara terperinci.

“Dikembalikan ke vendornya. Yang jelas sudah tidak bertugas di rumah sakit lagi,” ujar Sri Syamsinar, Rabu (28/10/2026). Ia juga menyebut dokter dan perawat IGD yang bertugas saat kejadian telah menjalani pembinaan dan menerima surat peringatan pertama (SP 1).

Sementara itu, Chaidir Syam melalui akun Facebook pribadinya menyatakan petugas keamanan dalam video tersebut telah dipindahtugaskan. Ia mengaku bersama jajaran direksi melakukan evaluasi menyeluruh. Namun, publik masih menanti penjelasan yang terang mengenai langkah konkret manajemen dalam mempertanggungjawabkan polemik pelayanan tersebut.

Kasus ini bermula saat keluarga membawa orang tua mereka ke RSUD dr. La Palaloi pada Senin (26/10/2026), sekitar pukul 12.00 Wita. Irwan, anggota keluarga pasien, mengaku kecewa karena pasien yang disebut dalam kondisi kritis diduga tidak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan awal sesuai harapan keluarga.

“Orang tua kami sudah tidak mau makan, setiap ada makanan yang masuk itu muntah, jadi memang butuh perawatan medis segera,” ungkap Irwan. Keluarga menilai kondisi pasien membutuhkan perhatian cepat, sehingga pelayanan yang mereka alami memicu kekecewaan dan pertanyaan serius terhadap respons rumah sakit.

Persoalan semakin memanas ketika keluarga mempertanyakan ketersediaan tempat tidur. Irwan mengaku petugas keamanan menunjukkan kamar yang dinilai masih kosong, tetapi menyebut kamar tersebut hanya memiliki tempat tidur bayi. Keluarga juga mengklaim memiliki rekaman video yang memperlihatkan kamar kosong, meski mereka mendapat penjelasan bahwa tempat tidur telah penuh.

Kini, sorotan publik tidak cukup dijawab dengan pemindahan atau pengembalian petugas kepada vendor. Manajemen RSUD dr. La Palaloi dituntut menjelaskan secara transparan hasil evaluasi, dasar tindakan terhadap petugas keamanan, serta tindak lanjut pembinaan tenaga medis. Keluhan keluarga pasien pun menjadi pengingat bahwa pelayanan rumah sakit harus mengutamakan keselamatan, kecepatan penanganan, dan komunikasi yang manusiawi. (TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *