Makassar, Sulawesibersatu.com — Rumor dan meme di grup WhatsApp yang mengaitkan PLT Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan dukungan terhadap kandidat tertentu dalam Pemilihan Rektor (Pilrek) memantik polemik. Netralitas pimpinan sementara kini menjadi sorotan di tengah perebutan kursi tertinggi kampus tersebut.
Pengamat pendidikan, Andi Hendra Dimansa, menegaskan isu itu tidak boleh dianggap sepele. Meski kebenarannya belum terkonfirmasi, persepsi keberpihakan pimpinan berpotensi mencederai kepercayaan sivitas akademika terhadap proses pemilihan.
“PLT Rektor harus berdiri persis di tengah seluruh kandidat. Jabatan sementara haram hukumnya dijadikan instrumen politik untuk mengarahkan pilihan,” tegas Andi Hendra, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, Pilrek bukan panggung adu pengaruh, melainkan ujian integritas dan demokrasi akademik. Jika kewenangan pimpinan sampai dipersepsikan menguntungkan calon tertentu, kesetaraan dalam kontestasi bisa dipertanyakan.
Andi Hendra juga mengingatkan para kandidat agar tidak menjadikan dugaan kedekatan atau klaim restu pejabat sebagai modal politik. Pertarungan seharusnya ditentukan oleh kapasitas akademik, gagasan, dan rekam jejak, bukan permainan persepsi.
Ia menegaskan, dugaan cawe-cawe dengan memanfaatkan kewenangan untuk mengondisikan hasil Pilrek merupakan persoalan serius yang dapat merusak etika kampus. Netralitas, katanya, tidak cukup diumbar lewat pernyataan, tetapi harus dibuktikan melalui keputusan yang transparan dan adil.
Karena itu, klarifikasi yang proporsional dan pengawasan objektif dinilai mendesak agar rumor tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan. Publik kampus berhak mengetahui bahwa proses suksesi berjalan sesuai aturan, tanpa tekanan maupun perlakuan istimewa terhadap kandidat tertentu.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya para kandidat, melainkan nama besar UNM. PLT Rektor wajib berdiri di tengah, bukan sembunyi di belakang kandidat mana pun,” pungkas Andi Hendra. Kini, integritas Pilrek UNM menjadi taruhan: demokrasi kampus harus dijaga, bukan dicurigai akibat rumor keberpihakan. (TIM)







