Ultimatum HMI Menggelegar: Skandal Pasar Lassang-Lassang Dituding Dilindungi, Aksi Besar Mengancam Meledak

Jeneponto Sulsel, Sulawesibersatu.com – Desakan keras mengguncang penegakan hukum di Jeneponto. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jeneponto melontarkan ultimatum tajam kepada aparat penegak hukum agar segera menuntaskan dugaan korupsi proyek Pasar Lassang-Lassang yang hingga kini dinilai mandek tanpa arah.

Dalam pernyataan yang bernada panas, HMI menuding lambannya penanganan kasus bukan sekadar kelalaian, melainkan mengindikasikan adanya kekuatan besar yang bermain di balik layar. Keterlambatan ini dinilai mencederai rasa keadilan publik dan memperkuat kecurigaan adanya perlindungan terhadap pelaku.

Sulaeman, perwakilan HMI, secara terbuka menantang aparat untuk membuktikan integritasnya. Ia menegaskan, jika dalam waktu dekat tidak ada penetapan tersangka baru, gelombang aksi besar akan dikerahkan untuk mengguncang institusi penegak hukum di Sulawesi Selatan.

Ancaman itu bukan sekadar retorika. HMI menyatakan siap turun ke jalan dengan massa lebih besar dan bahkan menduduki kantor kepolisian serta kejaksaan sebagai bentuk perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “pembiaran sistematis.”

Sorotan tajam juga diarahkan pada dugaan keterlibatan aktor kuat yang membuat kasus ini seolah jalan di tempat. Nama-nama besar mulai disebut dalam persidangan, memicu spekulasi publik bahwa perkara ini jauh lebih dalam dari yang terlihat di permukaan.

Sementara itu, satu-satunya tersangka dalam kasus ini telah bebas setelah menjalani hukuman tiga tahun. Fakta ini justru menambah bara kemarahan publik, karena dinilai belum menyentuh akar utama dari praktik korupsi yang terjadi.

Di sisi lain, aparat kepolisian mengklaim masih terus bekerja dan telah mengantongi surat perintah penyelidikan sejak tahun lalu. Namun, janji profesionalitas itu belum mampu meredam gelombang ketidakpercayaan yang terus membesar di tengah masyarakat.

HMI menegaskan perjuangan mereka belum selesai. Bagi mereka, ini bukan sekadar perkara hukum, melainkan pertaruhan antara keadilan dan kekuasaan. Jika hukum terus bungkam, maka jalanan akan menjadi panggung perlawanan berikutnya. (TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *