Paripurna DPRD Gowa Meledak, Husniah Hadirkan Istri Saksi hingga Sidang Ricuh

Gowa Sulsel, Sulawesibersatu.com – Rapat paripurna DPRD Gowa, Sulawesi Selatan, yang membahas usulan pemakzulan Bupati Husniah Talenrang, Rabu (12/8/2026), berubah panas dan berakhir ricuh. Ketegangan pecah setelah Husniah menghadirkan FN, istri salah satu saksi kunci Pansus Hak Angket yang disebut tengah hamil tujuh bulan.

Sebelumnya, tujuh fraksi DPRD Gowa kompak menyatakan sepakat menggunakan hak menyampaikan pendapat atas rekomendasi Pansus Hak Angket. Pendapat tersebut selanjutnya akan diajukan ke Mahkamah Agung sebagai bagian dari proses usulan pemberhentian Husniah.

Namun, saat diberi kesempatan menanggapi, Husniah justru menyampaikan pernyataan panjang dari mimbar hingga memutar pesan audio dari putranya. Aksi itu langsung dipotong interupsi anggota DPRD yang meminta Husniah cukup menjawab menerima atau menolak pendapat dewan.

Juru bicara Fraksi Gerindra, Dian Purnamasari, bahkan mengingatkan bahwa ruang klarifikasi hak angket telah selesai. “Ini bukan momen untuk melakukan klarifikasi sidang Hak Angket,” tegas Dian dalam paripurna.

Ketegangan semakin tajam ketika Husniah meminta izin menghadirkan FN ke ruang sidang. FN diketahui merupakan istri WH, mantan sopir pribadi Husniah yang disebut menjadi salah satu saksi penting dalam pemeriksaan Pansus Hak Angket.

Kehadiran FN sontak memicu interupsi bertubi-tubi. Meski diprotes, Husniah tetap berusaha melanjutkan penyampaiannya hingga suara teriakan terdengar dari sejumlah orang di ruang sidang dan kericuhan pecah.

Pansus sebelumnya menyoroti sejumlah persoalan yang menjadi dasar rekomendasi, mulai dari dugaan penyimpangan program seragam sekolah gratis sekitar Rp16 miliar, pencabutan bantuan beasiswa doktoral, hingga dugaan perselingkuhan dan tindakan amoral yang dinilai berkaitan dengan sumpah jabatan kepala daerah.

Meski DPRD Gowa telah mengunci langkah menuju Mahkamah Agung, Husniah belum otomatis kehilangan jabatan. Bola panas kini berada pada tahapan pemeriksaan MA, sementara paripurna yang seharusnya menjadi ruang keputusan politik justru tercoreng oleh kericuhan yang mempertontonkan sengitnya pertarungan antara kepala daerah dan DPRD Gowa. (TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *