Jakarta, Sulawesibersatu.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dihantam persoalan serius. Dugaan keracunan yang terjadi di sejumlah daerah dalam waktu berdekatan membuat keamanan makanan yang dikonsumsi para siswa dipertanyakan.
Ironisnya, korban dalam sejumlah insiden disebut mencapai ratusan siswa. Kondisi ini memicu sorotan tajam terhadap pengelolaan dapur, kualitas bahan baku, proses memasak hingga distribusi makanan ke sekolah.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap salah satu titik rawan berada pada jeda waktu antara makanan selesai dimasak dan saat disantap penerima manfaat. Semakin lama makanan dibiarkan, semakin besar pula risiko kualitasnya menurun.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mencontohkan makanan yang diproduksi sekitar pukul 01.00 dini hari namun baru disajikan pukul 12.00 siang. Artinya, makanan tersebut telah melewati jeda sekitar 11 jam sebelum dikonsumsi.
BPOM menegaskan kondisi tersebut jauh dari batas waktu yang direkomendasikan. “Jangan sampai lewat 4 jam,” kata Taruna di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Senin (14/9/2026).
Makanan yang terlalu lama berada dalam kondisi penyimpanan yang tidak tepat berpotensi mengalami degradasi dan terkontaminasi. BPOM bahkan menemukan sejumlah sampel di lapangan yang mengandung cemaran, termasuk aflatoksin.
SOP MBG kini menjadi titik krusial. Mulai dari penyiapan bahan, proses memasak, penyimpanan, penyajian hingga distribusi harus dikendalikan ketat. SPPG yang mengabaikan prosedur berpotensi menghadapi sanksi.
Program yang seharusnya mengisi perut anak-anak dengan makanan bergizi justru terancam menjadi bom waktu jika standar keamanan pangan diabaikan. Pemerintah dituntut tidak sekadar mengejar target distribusi, tetapi memastikan setiap makanan yang sampai ke sekolah benar-benar aman dikonsumsi. (AN/ZA)






