Maros Sulsel, Sulawesibersatu.com — Warga Patene, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kini seolah dipaksa hidup berdampingan dengan bahaya setiap hari. Aktivitas tambang yang diduga milik pengusaha bernama Ronal dituding telah mengubah jalan umum warga menjadi jalur maut, rusak, licin, dan siap menelan korban, terutama saat musim hujan.
Jalan yang sebelumnya mulus kini hancur akibat lintasan truk-truk pengangkut material tambang bertonase berat. Aspal terkelupas, lumpur menggenang, dan pengendara harus ekstra waspada agar tidak tergelincir atau terseret arus saat hujan turun. Warga menyebut, melintas di jalan itu kini bukan lagi soal kenyamanan, melainkan soal selamat atau celaka.
Keresahan warga memuncak. Aliansi Indonesia angkat suara dan mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) segera bertindak tegas. Mereka menilai pembiaran aktivitas tambang tersebut sama saja dengan membiarkan ancaman kecelakaan terus mengintai masyarakat. “Ini bukan sekadar jalan rusak, ini ancaman nyata bagi keselamatan publik,” ujar Ahmad, perwakilan Aliansi Indonesia.
Menurut Ahmad, selama tambang tetap beroperasi tanpa pengawasan ketat, warga akan terus menjadi korban. Truk melaju kencang, jalan licin, dan tidak ada tanggung jawab jelas, sementara masyarakat kecil harus menanggung risikonya. Ia menegaskan, APH tidak boleh menunggu korban jiwa baru bertindak.
Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang. Warga Patene hanya bisa berharap negara hadir sebelum jalan yang rusak ini benar-benar memakan korban. Mereka menilai, jika tambang bermasalah ini terus dibiarkan, maka keuntungan segelintir orang telah dibayar mahal dengan penderitaan dan nyawa warga. (TIM)








