Jakarta, Sulawesibersatu.com – Jurnalis sekaligus relawan kemanusiaan WNI, Heru, mengungkap pengalaman mencekam selama ditahan aparat keamanan Israel usai mengikuti misi bantuan internasional menuju Gaza. Selama dua hari tiga malam, ia mengaku mengalami intimidasi brutal yang meninggalkan trauma mendalam.
Heru mengatakan kekerasan sudah dimulai sejak para relawan masih berada di atas kapal. Aparat disebut melempar granat kejut ke arah relawan sebelum mereka dipindahkan secara paksa ke daratan dalam kondisi penuh ancaman.
Menurutnya, setiap tahanan dipaksa menundukkan kepala selama proses pemindahan. Sedikit saja mengangkat wajah, aparat langsung melakukan pemukulan dan tendangan tanpa ampun.
Dalam kesaksiannya, Heru mengaku sempat jatuh saat dipindahkan antar ruangan. Bukannya ditolong, tubuhnya justru diinjak oleh aparat yang berjaga di lokasi penahanan.
Ia juga mengungkap dugaan penyiksaan menggunakan alat kejut listrik. Heru mengaku beberapa kali disetrum di bagian badan, kaki, hingga punggung selama berada dalam tahanan.
Yang paling mengerikan, Heru menyebut adanya sebuah ruangan yang dikenal para tahanan sebagai “bilik eksekusi”. Tempat itu disebut menjadi lokasi intimidasi dan kekerasan terhadap relawan yang dianggap melawan.
Suasana penjara disebut penuh teror. Para relawan hidup dalam ketakutan karena pemukulan dan ancaman bisa terjadi kapan saja saat mereka dipindahkan dari satu ruangan ke ruangan lain.
Kini Heru telah kembali ke Indonesia bersama relawan WNI lainnya. Namun kesaksiannya memicu sorotan internasional terhadap dugaan perlakuan brutal aparat Israel terhadap misi kemanusiaan sipil. (AN/ZA)












