Makassar, Sulawesibersatu.com – Krisis distribusi air bersih yang dikelola PDAM Kota Makassar mulai memicu keluhan warga. Di sejumlahh wilayah, air disebut hanya mengalir pada jam-jam tertentu, bahkan harus ditunggu hingga tengah malam.
Kondisi tersebut membuat warga terpaksa mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mengandalkan sumur bor, menampung air dalam jeriken, hingga menyesuaikan aktivitas rumah tangga dengan jadwal air yang tidak menentu.
Reza (26), warga Kecamatan Tamalanrea, mengaku sudah lebih dari setahun mengalami gangguan pasokan air PDAM. Menurutnya, aliran air ke rumahnya nyaris tidak berjalan normal.
“Sudah sejak tahun lalu tidak mengalir air PDAM. Biasanya mengalir tengah malam. Karena sudah lama begini, saya pakai sumur bor. Dulu hanya cadangan, sekarang jadi sumber utama,” ujar Reza, Kamis (24/9/2026).
Meski suplai air disebut tidak lancar, Reza mengaku tetap menerima tagihan bulanan dari PDAM. Ia menyebut masih membayar biaya beban sekitar Rp30 ribuan setiap bulan.
Keluhan serupa disampaikan Rahmi (25), warga Kecamatan Panakkukang. Ia mengatakan air PDAM di rumahnya sering mengalir tidak menentu, terkadang muncul pada dini hari lalu kembali mati tanpa pemberitahuan.
Rahmi juga mengaku harus menyiapkan baskom dan jeriken untuk menampung air setiap kali aliran muncul. Sementara itu, kualitas air sumur di rumahnya disebut mulai menurun dan debitnya semakin sedikit.
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap ada perbaikan layanan dan kepastian distribusi air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara merata dan berkelanjutan. (TIM)






