Gowa Sulsel, Sulawesibersatu.com – Hanya karena terlambat satu menit, seorang ibu yang datang bersama anaknya harus menelan pil pahit penolakan layanan kesehatan negara. Dalam kondisi lemas dan butuh pertolongan, ia dipulangkan dari Puskesmas Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Video penolakan itu kini menyulut amarah publik dan membuka luka lama soal wajah dingin pelayanan kesehatan dasar.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Sabtu (13/12/2025) pukul 11.01 Wita. Ironisnya, loket pendaftaran ditutup tepat satu menit sebelumnya, yakni pukul 11.00 Wita. Tak ada toleransi. Tak ada empati. Aturan bicara, kondisi manusia kalah suara. Dalam video yang viral luas di media sosial, sang ibu tampak kecewa, tertekan, dan nyaris tak berdaya. Ia datang bukan untuk main-main, melainkan untuk berobat. Namun yang ia dapatkan justru penolakan administratif yang terasa kejam dan kaku.
Petugas puskesmas berdalih bahwa jam pendaftaran telah ditutup. Meski pelayanan masih berlangsung hingga siang hari, pintu bagi pasien baru dianggap tertutup rapat. Sang ibu kemudian diarahkan ke UGD. Namun, dalam kondisi lemas dan sudah terlanjur kecewa, ia menolak dan memilih pergi. Perdebatan singkat antara pasien dan petugas terekam kamera. Video itu pun meledak di jagat maya. Publik tersentak. Simpati mengalir deras. Banyak yang mempertanyakan yakni apakah negara setega itu menolak orang sakit hanya karena selisih satu menit?
Kasus ini segera berubah dari peristiwa lokal menjadi sorotan nasional, karena menyentuh jantung persoalan pelayanan publik yaitu ketika aturan berdiri tegak, tetapi kemanusiaan justru terjungkal. Menanggapi badai kritik, Dinas Kesehatan Gowa akhirnya angkat bicara. Kepala Bidang Pelayanan, dr. Alamsyah, menegaskan bahwa petugas tidak melanggar SOP. “Ini bukan pelanggaran. Jam pendaftaran memang sampai pukul 11.00 Wita. Pelayanan tetap berjalan, tapi pasien diarahkan ke UGD,” ujarnya, Minggu (14/12/2025).
Menurutnya, kejadian ini hanyalah miskomunikasi. Namun pernyataan itu justru memantik diskusi baru. Warganet mempertanyakan yaitu apakah semua pasien paham fungsi UGD? Apakah penjelasan sudah disampaikan dengan empati? Di ruang digital, publik terbelah.
Sebagian mengecam keras. “Kalau orang sakit disuruh balik cuma gara-gara telat semenit, di mana nurani?” tulis seorang netizen.
Namun ada pula yang membela petugas. “Kalau satu orang dilonggarkan, nanti semua minta dispensasi.” Perdebatan pun memanas. Aturan versus kemanusiaan. SOP versus empati. Meski membela prosedur, Dinas Kesehatan Gowa tetap mengakui ada yang perlu dievaluasi. Alamsyah mengingatkan tenaga kesehatan agar tidak kering empati. “Pasien itu orang sakit. Emosinya bisa labil. Komunikasi harus persuasif, bukan debat terbuka,” tegasnya.
Kasus pasien telat 1 menit ditolak berobat ini menjadi tamparan keras bagi sistem layanan dasar. Ia memperlihatkan bagaimana ketegasan tanpa hati bisa melukai rasa keadilan masyarakat. Di atas kertas, aturan mungkin dijalankan sempurna. Namun di lapangan, satu menit bisa menjadi jarak antara ditolong atau ditelantarkan dan dari Puskesmas kecil di Gowa, publik kini bertanya dengan suara lantang yakni apakah layanan kesehatan negara masih punya wajah manusia? (TIM)








