Takalar Sulsel, Sulawesibersatu.com – Proyek wisata Green Topejawa Coastal yang menghabiskan miliaran rupiah uang rakyat kini menjadi simbol pemborosan dan kegagalan pemerintah daerah. Alih-alih menjadi destinasi wisata yang menawan, kawasan ini tampak rusak, terbengkalai, dan tak terurus, dengan gazebo reyot, atap bangunan runtuh, dan pintu gerbang terkunci rapat.
Aktivis antikorupsi mengecam proyek ini sebagai bukti ketidakbecusan pejabat dan potensi korupsi. “Ini bukan sekadar proyek mangkrak. Ini adalah uang rakyat yang disia-siakan,” tegas Ramzah Thabraman, Wakil Ketua GNPK. Pantauan lapangan bahkan menunjukkan bahwa pembersihan kawasan dilakukan secara mendadak setelah isu mangkrak mencuat, seolah berusaha menutupi jejak.
Kejaksaan Tinggi Sulsel menyatakan siap menindaklanjuti laporan masyarakat, dari pengumpulan bukti hingga penyidikan bila ditemukan indikasi korupsi. Namun publik tetap menunggu langkah tegas agar Green Topejawa Coastal tidak menjadi monumen kegagalan dan pemborosan yang memalukan.
Proyek ini bukan hanya gagal sebagai destinasi wisata, tapi juga menjadi lambang bagaimana uang rakyat bisa menghilang tanpa jejak, meninggalkan puing-puing fasilitas yang seharusnya membawa manfaat bagi masyarakat. (TIM)












