Makassar, Sulawesibersatu.com – Gelombang kemarahan mahasiswa kembali meledak di depan Kantor Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Senin (6/4/2026). Aliansi Mahasiswa Rakyat Peduli Hukum (AMARAH) turun ke jalan dalam aksi jilid II, membawa satu tuntutan keras yakni bongkar mafia BBM subsidi yang diduga merampas hak rakyat kecil.
Dengan suara lantang dan penuh tekanan, massa menuding adanya praktik kotor dalam distribusi solar subsidi. Mereka menilai aparat penegak hukum hingga kini masih “diam” di tengah dugaan penimbunan dan penyelewengan yang terus terjadi secara sistematis.
Solar subsidi yang seharusnya menjadi penyelamat bagi nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil, justru diduga disedot oleh pihak tak bertanggung jawab. AMARAH menyebut kondisi ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap rakyat yang paling membutuhkan.
Jenderal lapangan aksi, Hasrul, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan peringatan keras bagi aparat. Ia menyebut praktik mafia BBM sebagai kejahatan terstruktur yang tidak bisa lagi ditoleransi.
Dalam tuntutannya, AMARAH mendesak aparat segera mengusut tuntas dugaan jaringan mafia solar subsidi yang disebut melibatkan sejumlah pihak. Mereka bahkan menyeret nama beberapa perusahaan yang diduga bermain dalam praktik ilegal tersebut.
Tak hanya itu, massa juga menuntut transparansi total dalam sistem distribusi BBM subsidi. Mereka menilai selama sistem masih tertutup, celah permainan kotor akan terus terbuka lebar dan merugikan negara.
Aksi berlangsung panas namun tetap terkendali di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. Meski begitu, hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait tudingan serius yang dilayangkan massa.
AMARAH memperingatkan, jika tuntutan mereka kembali diabaikan, gelombang aksi berikutnya akan jauh lebih besar dan lebih keras. Mereka bersumpah akan terus mengejar keadilan sampai mafia BBM benar-benar tumbang. (TIM)












