Gowa Sulsel, Sulawesibersatu.com – Ratusan massa yang tergabung dalam Poros Pemuda Berlawan (Pormula) mengguncang Kabupaten Gowa pada Selasa (21/4/2026). Sekitar 300 demonstran turun ke jalan dan memblokade akses utama di Jalan Masjid Raya, memicu kemacetan panjang serta kepanikan di sekitar Kantor Bupati.
Aksi yang awalnya berupa orasi berubah menjadi panas ketika massa membakar ban bekas di tengah jalan. Asap hitam membumbung tinggi, sementara teriakan tuntutan menggema, menciptakan suasana tegang yang nyaris tak terkendali.
Ketegangan mencapai puncaknya saat massa mencoba menerobos masuk ke area Kantor Bupati. Aparat Satpol PP yang berjaga langsung menghadang, memicu aksi dorong-dorongan yang keras di depan gerbang, memperlihatkan benturan fisik antara rakyat dan penguasa.
Di balik ledakan emosi itu, tersimpan sejumlah isu serius yang memicu kemarahan. Mulai dari dugaan korupsi proyek pemerintah, pencabutan sepihak beasiswa doktoral mahasiswa Universitas Hasanuddin, hingga dugaan skandal perselingkuhan yang menyeret nama Bupati Gowa.
Isu terakhir menjadi sorotan paling tajam. Demonstran menilai jika dugaan tersebut benar, maka bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan krisis moral yang merusak kepercayaan publik terhadap kepemimpinan daerah.
Kekecewaan massa semakin memuncak karena tidak satu pun perwakilan pemerintah daerah muncul menemui mereka. Sikap ini dianggap sebagai bentuk pembiaran dan penolakan terhadap suara rakyat yang tengah menuntut kejelasan.
Di tengah tekanan yang memuncak, DPRD Kabupaten Gowa akhirnya merespons dengan menjanjikan pembentukan panitia khusus (pansus) untuk mengusut seluruh polemik. Langkah ini menjadi satu-satunya celah meredakan amarah massa yang sudah di ambang ledakan.
Meski aksi berakhir relatif kondusif, ancaman belum padam. Pormula menegaskan akan kembali dengan kekuatan lebih besar jika tuntutan diabaikan sebuah sinyal bahwa badai politik di Gowa belum akan reda dalam waktu dekat. (TIM)






