Rombongan Karaeng Loe Ri Bira Hadiri Acara Adat Gaukang Tu Bajeng di Gowa

Gowa Sulsel, Sulawesibersatu.com – Kehadiran rombongan Karaeng Loe Ri Bira karena bagian yang tidak terpisahkan antara Kerajaan Bira, Kerajaan Tallo dan Kerajaan Gowa serta Kerajaan Bajeng dalam menyambut kedatangan Raja Lampung dan Putra Mahkotanya.

IMG 20190816 WA0019

 

Putera Mahkota Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung, Pangeran Alprinse Syah Pernong menjadi tamu kehormatan dalam upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam ritual Adat Gaukang Tu Bajeng pada Rabu (14/8) di Balla Lampoa Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel).

IMG 20190816 WA0012

 

Dalam kegiatan tersebut Putera Mahkota Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 itu dikawal langsung oleh Panglima Elang Berantai dan para pengawal kehormatan dari Kerajaan Gowa.

IMG 20190816 WA0016

 

Pangeran Alprinse diminta untuk memberikan sambutan di hadapan ratusan peserta upacara yang hadir di Rumah Adat Balla Lampoa Bajeng. Putra mahkota yang mahir berbahasa Inggris ini telah diangkat menjadi bagian dari Keluarga Besar Kerajaan Gowa itu mengucapkan terima kasih atas undangan kehormatan terhadap dirinya.

IMG 20190816 WA0015

 

“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas undangan kehormatan yang telah diberikan kepada saya, didampingi Panglima Elang Berantai Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong kami sampai semalam. Salam hormat dari saya, Saibatin Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23. Ini suatu kebanggaan terhadap saya dalam perjalanan hidup saya tentunya kedepan menjadi cerita Sejarah bagi saya dimasa kecil,” kata Pangeran Alprinse Syah Pernong.

IMG 20190816 WA0013

 

Pangeran Alprinse yang telah diberikan Gelar Iterassa Makkulauw Bassi. Karaeng Barania Ri Polong Bangkeng oleh Keluarga Kerajaan Gowa menambahkan bahwa keberanian para rakyat di Sulawesi Selatan khususnya Kerajaan Gowa dan Bajeng melawan tentara sekutu telah ditunjukkan oleh Sejarah hari ini yakni dengan adanya upacara Gaukang Tubajeng yang telah mengibarkan Bendera Merah Putih di Bajeng sebelum Merah Putih Berkibar di Pengangsaan Timur Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

IMG 20190816 WA0011

 

“Tradisi Gaukang Tubajeng yang berarti pesta besar orang Bajeng adalah upacara kemerdekaan sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan, Bendera Merah Putih dan Bendera Bajeng dikibarkan tiga hari sebelum Merah Putih Berkibar di Pegangsaan Timur Jakarta. Melalui momentum peringatan ini, semoga rakyat Bajeng senantiasa memperkokoh Persatuan Bangsa, selalu menjaga kebhinekaan diera globalisasi seperti saat ini. Adat dan tradisi masyarakat harus terus dijaga sebagai aset warisan nenek luhur bangsa Indonesia. Sebagai cucu dari seorang Pahlawan, sekali lagi saya mengucapkan apresiasi yang sebesar-besarnya terhadap masyarakat disini,” paparnya.

Dalam catatan Sejarah masyarakat Adat setempat, memang upacara Gaukang Tubajeng yang berlangsung 14 Agustus 1945, lebih awal sebelum Proklamasi RI 17 Agustus 1945. Bagi masyarakat setempat, Peristiwa ini menyimpan nilai historis yang amat penting, sebab Kerajaan Bajeng satu-satunya Kerajaan yang melakukan Pengibaran Bendera Merah Putih sebelum proklamasi 17 Agustus 1945.
“Gaukang Tu Bajeng ini adalah tradisi masyarakat Bajeng sejak dahulu kala, Pesta Adat masyarakat yang kita lakukan ini adalah untuk mengenang peristiwa jelang Kemerdekaan. Sebelum Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, Bendera Merah Putih telah kita kibarkan di Bumi Bajeng. Bayangkan ditengah penjajahan para tentara sekutu, kita tidak gentar dan takut. Ini menegaskan bahwa rakyat Bajeng adalah pemberani dan tidak takut kepada sekutu,” kata Ketua forum kerajaan dan kelembagaan adat se-Sulawesi, A. Makmur Sadda dan Pemangku Adat Bajeng, Sanrobone, dan Keluarga Besar Adat Karaeng Loe Ri Bira.
Dalam permandian Pangeran Kerajaan Lampung Keluarga dari Karaeng Loe Ri Bira didaulat untuk memandikan Je’ne Barania Pangerang Lampung di Bungung Tu Barania Bajeng dalam hal ini di wakili oleh Tetta H. Baco Karaeng Tayang Bin Karaeng Domba dan Tetta H. Abd Rajab Karaeng Tula didampingi oleh H. Karaeng Seni, Jumaris Karaeng Raga Tubarania dan H. Ahmad Yani karaeng Sigi Bin H. Dade Karaeng Lallo Bin Damang Karaeng Nunggu.Setelah pembacaan Sejarah singkat tradisi Gaukang Tu Bajeng oleh Panitia, amanat upacara, dilanjutkan dengan penunjukan benda-benda Pusaka didalam Rumah Adat Balla Lampoa Bajeng. Setelah itu, Pertunjukan beberapa tari-tarian Adat masyarakat setempat.

IMG 20190816 WA0020%257E3

 

Ditempat berbeda saat media ini menghubungi Tetta Amran Allobaji Karaeng Sau mengatakan, bahwa dirinya tidak dapat hadir dalam kegiatan tersebut karena bersama rombongan Karaeng Loe Ri Bira sebab sedang melaksanakan tugas di Jakarta yang tidak bisa ditinggalkan namun kehadiran Tubarania Jumaris Karaeng Raga sama saja telah mewakili roh Raja Bira.

Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, SIK, MSi, yang hadir dalam kegiatan itu mengapresiasi Pangeran Alprinse Syah Pernong yang sedikit banyak mengetahui Sejarah singkat adanya upacara Gaukang Tu Bajeng dan nilai-nilai Nasionalisme yang disampaikan di hadapan masyarakat.

IMG 20190816 WA0014

 

“Mantap Sekali, anak yang baru saja menginjak bangku kelas 1 SMP sudah sedikit banyak mengetahui Sejarah apalagi Sejarah upacara Bendera di tanah Bajeng. Kemudian semangat spirit nasionalisme yang disampaikannya dihadapan masyarakat luar biasa. Ini menjadi contoh apalagi sudah mahir berbahasa Inggris. Penguasaan bahasa asing di era modern ini sangat diperlukan, sebab zaman semakin berkembang dunia persaingan global terus meningkat. Anak-anak bangsa Indonesia harus seperti itu,” ucap Kapolres saat diminta pandangan oleh awak media.

Diketahui, Pangeran Alprinse Syah Pernong tiba di Tanah kelahiran Pahlawan Sultan Hasanuddin pada Selasa malam (13/8). Setiba di Makassar disambut oleh Ketua Forum Kerajaan dan Kelembagaan Adat se-Sulawesi Selatan, A. Makmur Sadda, cucu-cucu Karaeng Polongbangkeng ke XII dan Karaeng Gajang beserta rombongan, serta rombongan Karaeng Loe Ri Bira H. Abd Rajab Karaeng Tula, HB Karaeng Tayang, H. Karaeng Seni, H. Achmad Yani Karaeng Sigi dan Jumaris Karaeng Raga Tubarania.

Perjalanan langsung dilanjutkan dengan ibadah spritual di Pemakaman pahlawan’ Sultan Hasanuddin, kemudian keesokan harinya pada Rabu (14/8), Pangeran Alprinse menghadiri undangan Kehormatan pada upacara Gaukang Tu Bajeng, setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Sumur To Barania tempat Permandian para Sultan dan para Pemberani di Sulawesi Selatan.

Pangeran Alprinse terhitung ke-9 kali ini. Mandi adat ini dilakukan di suatu tempat yang disakralkan oleh masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Gowa sebab tempat tersebut merupakan Sumur Peninggalan Sejarah Kerajaan dahulu kala. Menurut cerita dan keyakinan masyarakat setempat juga pengakuan para Karaeng-karaeng disana bahwa Sumur yang bernama To Barania merupakan tempat Permandian para Keluarga Besar dan para Pemberani Kerajaan Bajeng sebelum berangkat perang. Sumur To Barania terlatak di Kabupaten Gowa, dari Kota Makassar menuju ke tempat ini dapat ditempuh sekitar kurang lebih satu jam perjalanan.

Karaeng Kamma selaku Juru Kunci Bungung Barania Bajeng ini menjelaskan bahwa dahulu kala semua orang Pemberani Kerajaan Bajeng sebelum berangkat untuk perang terlebih dahulu ke Sumur To Barania untuk melaksanakan Permandian. Semua Prajurit dan orang Pemberani To Bajeng ke Sumur ini untuk a’dinging-dinging dengan kata lainnya ialah menenangkan hati, mendinginkan pikiran sebelum ke medan pertempuran. Banyak kerabat To Polongbangkeng ke tempat ini untuk Mandi, karena Bajeng dan Polongbangkeng satu rumpun.

Setelah pemandian selesai, Pemotongan 1 ekor kerbau yang dibagikan kepada masyarakat sekitar dan santunan kepada 30 anak yatim oleh Putera Mahkota Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong ini. (*Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *