Proyek Rp1,7 Miliar di Jeneponto Mulai “Ambruk” Sebelum Selesai, Lis Plank Gedung Sipitangarri Roboh, Publik Curiga Kualitas Pekerjaan

Jeneponto Sulsel, Sulawesibersatu.com – Proyek pembangunan Gedung Pertemuan Sipitangarri di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang menelan anggaran fantastis Rp1,7 miliar, kini menjadi sorotan tajam publik. Ironisnya, proyek yang belum rampung dikerjakan itu sudah menunjukkan tanda-tanda kegagalan konstruksi setelah bagian lis plank bangunan dilaporkan roboh.

Peristiwa memalukan tersebut terjadi pekan lalu, padahal berdasarkan kontrak kerja, proyek ini masih berjalan dan ditargetkan selesai pada 28 Desember 2025. Insiden ini sontak memicu kecurigaan masyarakat terhadap mutu pekerjaan, pengawasan teknis, dan penggunaan anggaran negara. “Kalau masih tahap pengerjaan saja sudah roboh, bagaimana nanti kalau sudah dipakai?” ujar seorang warga dengan nada geram.

Proyek yang dibiayai dari Dana Alokasi Umum (DAU) Earmark Tahun Anggaran 2025 melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Jeneponto itu dilaksanakan oleh CV Amin Abadi Sejahtera, dengan pengawasan teknis oleh CV Macario Engineer. Nilai kontraknya tercatat sebesar Rp1.712.176.310, angka yang dinilai tidak kecil untuk ukuran kualitas bangunan yang kini dipertanyakan. Meski pihak terkait menyebut yang roboh “hanya bagian lis plank”, publik menilai alasan tersebut tidak bisa diterima begitu saja. Insiden ini dianggap sebagai alarm dini atas potensi masalah yang lebih besar, baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawasan.

Desakan agar Aparat Penegak Hukum (APH) turun tangan pun menguat. Aktivis dan pemerhati kebijakan publik meminta Kejaksaan melakukan langkah pencegahan dini guna menghindari potensi kerugian keuangan negara. “Agar Kejaksaan segera melakukan pencegahan terhadap kemungkinan adanya tindakan yang dapat merugikan keuangan negara,” tegas Alim Bahri, dalam percakapan yang beredar di grup WhatsApp.

Sejumlah tokoh masyarakat menilai kejadian ini tidak boleh dianggap sepele. Dengan anggaran besar dan proyek yang masih berjalan, pengawasan lapangan dinilai lemah dan harus diperketat. Aktivis bahkan mendorong dilakukannya audit teknis menyeluruh, guna memastikan seluruh pekerjaan sesuai spesifikasi dan standar konstruksi. Jika tidak, mereka khawatir proyek ini hanya akan menjadi monumen pemborosan uang rakyat yang menyisakan masalah di kemudian hari.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak pelaksana maupun instansi terkait mengenai penyebab robohnya lis plank tersebut. (TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *