Maros Sulsel, Sulawesibersatu.com – Kemacetan horor kembali melumpuhkan Poros Moncongloe, Sabtu (14/2/2026) pagi. Jalur vital penghubung Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, dan Kota Makassar itu berubah menjadi kubangan raksasa akibat jalan hancur dan genangan setinggi betis orang dewasa.
Sejak pukul 07.00 Wita, kendaraan mengular hingga 800 meter. Titik terparah terjadi dari depan SPBU Moncongloe hingga pertigaan menuju perbatasan Gowa-Makassar. Arus lalu lintas nyaris tak bergerak, membuat warga terjebak berjam-jam di jalan rusak.
Lubang-lubang menganga tertutup air keruh menjebak pengendara. Sepeda motor dan mobil terpaksa merayap, saling mengalah demi menghindari terperosok. Drainase buruk membuat air tak kunjung surut, memperparah ancaman kecelakaan di jalur maut tersebut.
“Setiap lewat sini harus ekstra hati-hati. Salah sedikit bisa jatuh,” keluh seorang pengendara. Ia mempertanyakan ke mana larinya tanggung jawab perbaikan, sementara warga tetap disiplin membayar pajak setiap tahun.
Kekecewaan juga datang dari warga setempat yang menilai kondisi ini sudah terlalu lama dibiarkan. Mereka menegaskan pemerintah jangan menunggu korban jiwa bertambah sebelum bertindak. Kesabaran masyarakat disebut sudah di batas akhir.
Ironisnya, informasi yang beredar menyebut Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menyiapkan anggaran Rp12 miliar untuk perbaikan sepanjang 18 kilometer ruas tersebut. Namun hingga pertengahan Februari, alat berat tak kunjung terlihat di lokasi.
Mandeknya eksekusi proyek memunculkan tanda tanya besar. Apakah tersangkut birokrasi, proses administrasi, atau sekadar lemahnya kemauan politik? Publik menilai janji tanpa realisasi hanya memperpanjang penderitaan pengguna jalan.
Poros Moncongloe bukan sekadar jalan biasa, melainkan urat nadi ekonomi kawasan perbatasan. Jika terus diabaikan, bukan hanya kemacetan yang menjadi warisan, tetapi juga ancaman keselamatan yang setiap hari menghantui warga. (TIM)








