Jakarta, Sulawesibersatu.com – Penulis kontroversial Tere Liye kembali meledak. Kali ini, ia menghantam telak mandeknya eksekusi hukum terhadap Silfester Matutina sebuah kasus yang disebutnya sebagai bukti nyata bobroknya penegakan hukum di Indonesia.
Dalam pernyataan yang menyengat, Tere Liye menuding aparat seolah tak punya nyali. Vonis penjara yang pernah dijatuhkan, menurutnya, kini tak lebih dari kertas tak bernyawa tak dieksekusi, tak dijalankan, dan seolah sengaja dilupakan.
Lebih panas lagi, ia menguliti ironi yang menusuk logika publik yakni saat rakyat kecil harus jungkir balik mengurus SKCK demi pekerjaan receh, seorang terpidana justru bisa duduk di kursi empuk Komisaris BUMN ID Food.
“Ini bukan sekadar ketimpangan ini penghinaan!” sindirnya keras, menggambarkan bagaimana hukum tampak bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan kedekatan politik.
Tak berhenti di sana, Tere Liye juga menyeret tajamnya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang kerap menghantam rakyat kecil tanpa ampun. Ia menyebut banyak warga bahkan dipenjara cepat, sementara figur tertentu justru tampak “tak tersentuh”.
Baginya, ini adalah potret telanjang wajah hukum Indonesia yaitu tajam ke bawah, tumpul ke atas, dan makin kehilangan rasa keadilan yang seharusnya jadi fondasi negara.
Di akhir, satu kalimatnya menjadi tamparan keras yang bergema yakni “Apa susahnya mengeksekusi satu orang ini?” sebuah pertanyaan sederhana yang kini berubah jadi teriakan publik atas hukum yang dianggap lumpuh. (AN/ZA)











