Barru Sulsel, Sulawesibersatu.com — Dua proyek rabat beton di Desa Tompo, Kabupaten Barru, yang baru hitungan bulan selesai dikerjakan, kini berubah menjadi monumen kegagalan pembangunan desa. Beton mengelupas, permukaan rontok seperti adonan murahan, dan batu-batu berhamburan di sepanjang jalan. Kerusakan terjadi hampir serempak, meninggalkan tanya besar yaitu apakah benar proyek ini dibangun atau hanya dipoles untuk menghabiskan anggaran?
Temuan rusaknya dua rabat beton itu menyulut kemarahan publik. Warga menilai kerusakan yang begitu “seragam” bukan kesalahan teknis biasa, tapi indikasi kuat adanya penyimpangan, bahkan dugaan permainan anggaran. “Kerusakannya terlalu rapi, terlalu mirip. Tidak mungkin kalau dikerjakan sesuai standar. Ini uang negara. Jangan main-main,” ujar seorang warga, Jumat (12/12/2025).
Hingga kini, tidak ada satu pun keterangan resmi dari aparat penegak hukum, termasuk Unit Tipidkor Polres Barru, yang ditunggu-tunggu publik untuk bergerak. Kekosongan informasi ini justru membuat publik curiga bahwa ada pihak yang ingin membiarkan kasus ini menguap. “Jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Ini sudah jelas-jelas tidak beres,” tegas salah seorang tokoh masyarakat. Warga mendesak Tipidkor segera memanggil kepala desa, pelaksana proyek, dan pengawas. Diamnya aparat dianggap sebagai bentuk pembiaran yang hanya membuka ruang bagi dugaan kecurangan semakin subur.
Dokumentasi lapangan memperlihatkan fakta buruk yakni Rabat Beton di Dusun Batulappa dengan Volume 170 x 4 meter menelan anggaran Rp185 juta (2024) kondisinya mengelupas, rapuh, batu berhamburan, permukaan hancur seperti tak pernah dicampur semen cukup, serta Rabat Beton di Dusun Tompo dengan Volume 135 x 4 meter yang juga menelan anggaran Rp148 juta (2025) kondisinya rusak dengan pola serupa, menunjukkan mutu yang jauh dari standar infrastruktur desa.
Kerusakan cepat pada dua proyek berbeda tahun ini memunculkan dugaan serius adanya pengurangan bahan, campuran tidak sesuai, atau markup anggaran. “Ratusan juta dipakai, tapi hasilnya begini? Baru selesai, sudah rusak. Ini jelas tidak masuk akal,” ujar warga lain. Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Tompo, Suhardi B, memilih bungkam. Tidak ada jawaban, tidak ada klarifikasi hanya keheningan yang membuat kecurigaan publik semakin mengeras. Bagi publik, dua rabat beton yang ambruk bukan sekadar infrastruktur gagal, tetapi simbol runtuhnya kepercayaan terhadap pengelolaan anggaran desa.
Masyarakat menuntut transparansi penuh yakni apa yang sudah diperiksa? Siapa yang dipanggil? Apa tindak lanjutnya? Dan kapan aparat benar-benar bergerak? “Kami tidak butuh janji. Kami ingin bukti. Jangan biarkan penyimpangan terus berulang,” seru warga. Kini mata publik tertuju pada Unit Tipidkor Polres Barru. Jika aparat kembali diam, warga menilai itu sama saja dengan membiarkan anggaran negara diacak-acak tanpa perlawanan. (TIM)






