Barru Sulsel, Sulawesibersatu.com – Proyek pembangunan penahan tanggul Pantai Putiangin di Desa Lasitae, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, kini menjadi sorotan tajam. Bukan tanpa alasan struktur buis beton yang seharusnya menjadi benteng terakhir masyarakat dari terjangan abrasi justru tampak ringkih, mudah pecah, dan terkesan asal jadi.
Proyek bernilai Rp817 juta yang dikerjakan CV Inti Purnama Abadi dan diawasi CV Meta Konsultan ini dibiayai Dana Alokasi Umum (DAU) melalui Dinas PUTR Perkim Barru. Namun kualitas fisik di lapangan memantik tanda tanya besar publik yakni ke mana sebenarnya standar mutu konstruksi itu pergi?
Direktur sekaligus kontraktor pelaksana, Marsaude, mengonfirmasi langsung bahwa buis beton tidak didatangkan dari pabrik, melainkan dicetak dadakan di lokasi proyek. “Kami akui membuat buis beton di lokasi, memang tidak seharusnya. Tapi ini kami lakukan untuk mempercepat pekerjaan dan efisiensi anggaran,” ujarnya melalui sambungan telepon, Minggu (16/11/2025).
Keputusan ini sontak memicu keraguan besar karena pembuatan buis beton di lapangan kerap tidak memenuhi standar kualitas, terutama dari sisi curing, komposisi material, dan ketahanan tekan. Marsaude berdalih cuaca buruk menjadi hambatan besar dalam pengerjaan. “Pekerjaan ini cukup sulit. Cuaca tidak menentu, jadi kami harus cari cara agar pekerjaan tetap berjalan.”
Namun bagi warga, alasan itu tak cukup menutupi fakta bahwa buis beton terlihat rapuh bahkan sebelum dipasang. Sejumlah warga yang menyaksikan proses pemasangan tanggul mengaku melihat langsung betapa mudahnya beberapa buis beton retak, pecah, bahkan hancur ketika diangkat dengan alat berat. “Belum kena ombak saja sudah pecah,” keluh salah satu warga setempat.
Jika kondisi ini benar, maka tanggul ini bukan menjadi pelindung pesisir melainkan potensi bencana baru bagi masyarakat Putiangin yang selama ini hidup berdampingan dengan ancaman abrasi dan gelombang tinggi. Hingga berita ini dibuat, pihak Dinas PUTR Perkim Barru belum mengeluarkan satu pun pernyataan resmi, meski proyek ini jelas berada di bawah pengawasan mereka. Publik bertanya-tanya yaitu apakah pemerintah daerah akan turun tangan, atau membiarkan rapuhnya konstruksi ini menunggu waktu hingga roboh tersapu ombak?
Dengan nilai proyek ratusan juta rupiah dan posisi tanggul yang sangat vital, warga kini menagih yakni Evaluasi menyeluruh, Pemeriksaan mutu material, Tanggung jawab pihak pelaksana, serta Transparansi dari Dinas terkait. Karena bagi mereka, tanggul Putiangin bukan sekadar proyek. Ini adalah benteng keselamatan yang tidak boleh dikerjakan setengah hati. (TIM)

