Jembatan Haji Bohari Nyaris Ambruk, Warga Maros Meledak: “Toilet VIP Saja Bisa Cepat, Masa Jembatan Tidak?”

Maros Sulsel, Sulawesibersatu.com — Kekecewaan masyarakat kembali memuncak menyusul lambannya penanganan Jembatan Haji Bohari di Pakere, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Jembatan yang selama hampir dua dekade menjadi akses vital ribuan warga itu kini tinggal menunggu waktu sebelum benar-benar putus, setelah dasar struktur tergerus arus sungai.

Namun hingga hari ini, upaya pemerintah dinilai tak sebanding dengan urgensi kerusakan. “Jembatan Haji Bohari itu urat nadi masyarakat. Pedagang, anak sekolah, semua lewat sini. Tapi pemerintah lebih tertarik membiayai proyek yang urgensinya dipertanyakan,” keluh seorang warga dengan nada tinggi, Sabtu (22/11/2025).

Warga semakin murka ketika membandingkan nasib jembatan dengan penyelesaian proyek toilet VIP di Kantor Bupati Maros senilai Rp397 juta, yang disebut rampung dalam waktu singkat. “Toilet bisa selesai cepat, tapi jembatan yang menghubungkan ribuan orang dibiarkan sampai ambruk. Pemerintah seperti kehilangan kompas,” lanjut warga lainnya.

Fatmawati, warga yang ikut menyampaikan keresahan langsung kepada pejabat yang turun ke lokasi, menegaskan bahwa warga sudah lelah dengan janji. “Kami berharap bukan cuma datang lihat, survei, dan foto-foto. Kami di sini sudah capek dijanjikan. Jangan buta mata dan hati. Datanglah untuk membantu, bukan cari muka,” tegasnya.

Dinas PU-PKP Maros bersama tim teknis Pemprov Sulsel telah meninjau jembatan pada Jumat (21/11). Kepala Dinas PU-PKP Maros, Muhammad Alfian Amri, memastikan langkah darurat sudah dimulai. “Insya Allah pemerintah daerah akan menangani segera. Jembatan kita bongkar dan bersihkan dulu sambil menunggu desain. Tahun depan fisiknya mulai dibangun,” jelasnya.

Tim ahli dari Pemprov Sulsel, Unhas, serta Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang akan dilibatkan untuk memperkuat perencanaan. Sementara itu, Kepala Desa Tanete, Takbir, mengatakan pihak desa telah menyediakan perahu karet sebagai jalur alternatif warga.

Tokoh masyarakat Tanete, Masdar, menegaskan bahwa warga kini hanya ingin realisasi. “Yang kami harapkan bukan janji-janji, tapi kerja nyata. Jembatan ini bukan hanya kebutuhan Tanete atau Bontotallasa ini akses penting masyarakat Sulawesi Selatan,” ujarnya. (TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *