Takalar Sulsel, Sulawesibersatu.com – Proyek revitalisasi SDN 97 Tamasongo, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan. Di balik proyek yang digadang-gadang memperbaiki fasilitas pendidikan, muncul dugaan persoalan serius terkait keselamatan kerja dan kualitas material.
Informasi yang dihimpun menyebut sejumlah pekerja diduga beraktivitas tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Jika benar, kondisi ini menjadi alarm keras karena pekerjaan konstruksi memiliki risiko kecelakaan yang tidak boleh dianggap remeh.
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) semestinya bukan formalitas. Keselamatan pekerja harus menjadi prioritas sejak proyek dimulai hingga pekerjaan rampung.
Sorotan tak berhenti pada APD. Sejumlah material yang digunakan dalam revitalisasi tersebut juga disebut-sebut memiliki kualitas dan kelayakan yang dipertanyakan.
Dugaan ketidaksesuaian material menjadi persoalan serius karena proyek tersebut menyangkut fasilitas pendidikan. Bangunan sekolah harus memenuhi spesifikasi teknis agar aman, kuat, dan mampu digunakan dalam jangka panjang.
Masyarakat mendesak pemerintah dan instansi terkait tidak sekadar melihat proyek dari jauh. Pemeriksaan langsung di lapangan diperlukan untuk menguji kualitas material, volume pekerjaan, spesifikasi teknis, serta kepatuhan terhadap standar K3.
Jika ditemukan pelanggaran, pihak berwenang diminta bertindak tegas dan memerintahkan perbaikan sesuai ketentuan. Jangan sampai keselamatan pekerja dan kualitas bangunan dikorbankan demi mengejar penyelesaian proyek.
Publik kini menunggu transparansi. Revitalisasi sekolah harus menghasilkan bangunan yang benar-benar aman bagi siswa dan guru, bukan sekadar proyek yang tampak selesai tetapi menyimpan masalah di balik dindingnya. (TIM)






