Jakarta, Sulawesibersatu.com – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking enam proyek hilirisasi pada pekan depan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengakselerasi sektor riil dan memperkuat fundamental ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah industri dalam negeri.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan enam proyek tersebut merupakan tahap awal dari rangkaian besar hilirisasi yang akan terus berjalan hingga Maret 2026. Salah satu proyek utama berlokasi di Kalimantan Barat, wilayah yang diproyeksikan menjadi pusat pengolahan mineral strategis nasional.
“Di akhir bulan ini rencananya akan ada kurang lebih enam proyek hilirisasi yang dilakukan groundbreaking. Setelah itu, masih ada sekitar 12 proyek lagi yang menyusul pada Februari atau paling lambat Maret,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers, Kamis (22/1/2026).
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi, hingga bioindustri dengan nilai investasi miliaran dolar AS. Salah satu fokus utama adalah pengembangan hilirisasi bauksit dan aluminium melalui pembangunan refinery aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, serta proyek serupa di Cilacap dan Banyuwangi.
Selain refinery aluminium, pemerintah juga mendorong pembangunan smelter alumina di Mempawah senilai sekitar US$2,4 miliar serta fasilitas smelter grade alumina (SGA) dari bauksit dengan nilai investasi US$890 juta. Di sektor energi terbarukan, proyek produksi bioavtur di kilang Cilacap senilai US$1,1 miliar turut masuk dalam daftar prioritas.
Tak hanya sektor mineral dan energi, hilirisasi juga menyasar bioindustri dan pangan. Pemerintah mengembangkan fasilitas kelapa terintegrasi di Morowali senilai US$100 juta, proyek bioetanol sekitar US$80 juta, serta lima fasilitas hilirisasi unggas yang mencakup pengolahan dan pemotongan. Seluruh proyek ini diharapkan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja nasional. (AN/ZA)






